Hari Laut Dunia, Indonesia Termasuk Pencemar Terbesar

TrubusNews
Binsar Marulitua
08 Juni 2018   13:30 WIB

Komentar
Hari Laut Dunia, Indonesia Termasuk Pencemar Terbesar

Ilustrasi (Foto : Trubus.id/Binsar Marulitua)

Trubus.id -- Setiap tanggal 8 Juni seluruh dunia selalu memperingati hari laut dunia. Di Indonesia, hari laut selalu diperingati di tengah kenyataan masih masifnya ancaman kerusakan, seperti sampah, pencemaran industri, penangkapan ikan berlebih, reklamasi pantai dan pengasaman laut sebagai dampak perubahan iklim.

Pusat Data dan Informasi Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) sampai pada Mei 2018 mencatat, sedikitnya 1,29 juta ton sampah dibuang ke sungai dan bermuara di lautan tiap tahun. Dari jumlah tersebut, terdapat 13.000 plastik mengapung di setiap kilometer persegi setiap tahunnya.

Sekretaris Jenderal KIARA, Susan Herawati mengatakan, kesadaran pentingnya laut masih dibayangi keironisan di mana Indonesia ditempatkan sebagai posisi kedua setelah Cina dari 20 negara yang paling banyak membuang sampah plastik ke laut setiap tahunnya. Menariknya, dalam siklus 11 tahun jumlah plastik mengalami peningkatan dua kali lipat, dengan kemasan dan bungkus makanan atau minuman yang menjadi jenis sampah plastik terbesar.

Baca Lainnya : Nyaris jadi Santapan, Puluhan Penyu Hijau Selundupan, Dikembalikan ke Lautan

"Disusul Filipina, Vietnam, Sri Lanka, Thailand, Mesir, Malaysia, Nigeria, dan Bangladesh. Masih banyak orang yang berpikir bahwa laut adalah tempat sampah besar, padahal laut adalah sumber pangan yang strategis” kata Susan di Jakarta. 

Di sisi lain, Pusat Data dan Informasi KIARA (2018) mencatat, dalam kurun waktu 1998 sampai dengan 2017, diperkirakan telah terjadi 37 kasus tumpahan minyak di perairan Indonesia. Beberapa contoh kasus yang dapat disebutkan adalah pencemaran kawasan perairan Timor di Nusa Tenggara Timur, pada tahun 2016, akibat ledakan ladang minyak di Blok Atlas Australia milik Petroleum Authority of Thailand Exploration and Production Public Company Limited (PTTEP). Sampai saat ini, kerugian ekologis akibat pencemaran ini belum dipulihkan.

Baca Lainnya : Paus Kepala Melon Korban Tombak Nelayan, Berhasil Dikembalikan ke Lautan

“Dalam konteks inilah, kebijakan yang konsisten dari pemerintah sangat dibutuhkan, misalnya moratorium proyek reklamasi pantai, proyek tambang di pesisir dan pembolehan dumping ke perairan nasional. Pendidikan dan penyadaran mengenai laut dan sampah plastik, penting dilakukan oleh bersama oleh lintas kementrian seperti KKP, KLHK dan Kemenko Maritim, karena sampai saat ini laut masih dipahami sebagai tempat pembuangan akhir sampah manusia.” Ujar Susan

Susan menambahkan, saatnya masyarakat global bergegas menyelamatkan ekosistem laut yang terancam. Untuk itu, dibutuhkan langkah konkret untuk menghentikan dan memulihkan laut yang rusak dan tersisa. Jika laut terus tercemar, maka kehidupan manusia terancam. Pada titik inilah pentingnya membangun kesadaran utuh untuk segera menghentikan pembuangan sampah plastik ke laut. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: