Berhasil Larang Peredaran Iklan rokok, 10 Kepala Daerah Diberi Penghargaan

TrubusNews
Astri Sofyanti
31 Mei 2018   17:00 WIB

Komentar
Berhasil Larang Peredaran Iklan rokok, 10 Kepala Daerah Diberi Penghargaan

kemenkes memberikan penghargaan kepada kepala daerah yang berhasil melarang peredaran iklan rokok di wilayahnya. (Foto : Trubus.id/ Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Kementerian Kesehatan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang jatuh setiap 31 Mei dengan memberikan penghargaan Pastika Awya Pariwara kepada 10 daerah yang berhasil melarang peredaran iklan rokok di wilayahnya.

Untuk itu, Menteri Kesehatan Prof. Dr.dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) memberikan apresiasi kepada DKI Jakarta, Kabupaten Klungkung, Kabupaten Kulonprogo, Bogor, Padang Panjang, Bukit Tinggi, Payakumbuh, Pasaman, Padang, dan Bekasi yang telah menerapkan kebijakan tersebut.

Baca Lainnya : Kemenkes Akan Segera Keluarkan Peraturan Menteri Terkait KTR

“Tahun ini saya dengar Pemerintah Kota Bogor mulai melakukan pelarangan iklan di gerai-gerai penjualan rokok,” kata Nila ketika menghadiri peringatan HTTS di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (31/5).

Adapun tujuan penerapan pelarangan iklan rokok ini adalah untuk mencegah generasi muda untuk mulai merokok. Hal ini karena pemerintah berkomitmen mengatur iklan rokok sebagai salah satu upaya untuk melindungi anak dan remaja dari iklan rokok yang nantinya akan berpengaruh terhadap perilaku merokok generasi muda.

Sebagaimana diketahui, iklan rokok mendorong generasi muda untuk mencoba rokok, sehingga menjadi sebuah kebiasaan atau tren dikalangan anak muda.

Pengaturan iklan rokok sebenarnya juga telah tercantum dalam Peraturan Pemerintah nomor 109 tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan yang telah ditandatangani oleh Presiden RI sejak tahun 2012 lalu.

Kebijakan pelarangan tersebut bukan hanya diterapkan di pemerintahan pusat saja, tapi kebijakan pembatasan iklan rokok juga membutuhkan dukungan semua elemen masyarakat.

Berdasarkan data hasil Survei Indikator Kesehatan nasional (Siskesnas), saat ini Indonesia tengah menghadapi ancaman serius karena jumlah perokok yang terus meningkat terutama pada anak-anak dan remaja. Jumlah perokok usia remaja antara 15 sampai 19 tahun meningkat dua kali lipat dari 12,7 persen pada tahun 2001 menjadi 23,1 persen pada tahun 2016. Pada tahun 2016 angka remaja laki-laki perokok mencapai 54,8 persen.

Baca Lainnya : Merokok Melukai Hati Keluarga

“Dengan berbagai upaya baik pemerintah ataupun masyarakat kita sama-sama berharap prevansi rokok pada anak bisa kita turunkan, tapi kenyataannya justru angka tersebut meningkat sebesar 8,8 persen di tahun 2016,” papar Menkes.

Lebih lanjut Menkes mengatakan pemerintah terus berupaya melindungi generasi muda dan mencegah perokok agar tidak bertambah. [RN]
 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: