Daerah Andalan Penghasil Beras di Sulteng, Kekurangan Kuota Pupuk

TrubusNews
Syahroni
22 Mei 2018   20:45 WIB

Komentar
Daerah Andalan Penghasil Beras di Sulteng, Kekurangan Kuota Pupuk

Proses pemupukan padi. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Kawasan Parigi Moutong merupakan salah satu lumbung produksi beras di Sulawesi Tengah (Sulteng) yang sangat diandalkan Bulog untuk pengadaan beras untuk menguatkan stok pangan nasional.

Hebatnya, selama kurun waktu 10 tahun terakhir, luas panen padi di Kabupaten itu terus meningkat dari 46.000 hektare pada 2007, menjadi 57.000 hektare di tahun 2017.

Baca Lainnya : Kementan Subsidi Pupuk dan Benih untuk Tingkatkan Produksi Padi dan Jagung

Dengan luasan areal persawahan yang ada, setiap tahunnya Parigi Mautong mampu surplus beras hingga 115.000 ton. 

Namun sayangnya, dengan berbagai raihan cemerlang itu, petani di Parigi Mautong masih dihadapkan dengan berbagai kendala produksi. Salah satunya terkait kuota pupuk dari pemerintah yang dialokasikan untuk mereka.

Menurut Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Parigi Mautong, Nelson Metubun, kuota pupuk untuk petani di wilayahnya masih jauh dari kata memadai.

"Jika dibandingkan dengan luas sawah yang digarap petani, maka kuota pupuk kita masih jauh dari cukup. Hanya berkisar 30 persen dari total kebutuhan," ujarnya ketika dihubungi wartawan, Selasa (22/5).

Ia menuturkan, berdasarkan pengamatan di lapangan, memasuki musim tanam tahun ini, stok pupuk memang masih tersedia. Namun jumlahnya tidak mampu menangani seluruh areal persawahan secara maksimal.

Nelson menjelaskan, Parigi Mautong memperoleh kuota pupuk berdasarkan jenis yakni pupuk Urea sebanyak 8.500 ton, pupuk SP36 sebanyak 585 ton, pupuk ZA sebanyak 1.250 ton, pupukl NPK sebanyak 7.000 ton, serta pupuk organik sebanyak 750 ton.

Namun jika dibandingkan dengan luas tanam Oktober-Maret 2017/2018 dan musim tanam April-September 2018 dengan total keseluruhan mencapai 59.088 hektare, ketersediaan pupuk hanya 29.335 ton.

Baca Lainnya : Pemerintah Jamin Stok Pupuk Bersubsidi Sampai Tahun 2018

"Itu artinya ketersediaan pupuk belum mampu melayani setengah dari luas sawah yang ada," ungkap Nelson lagi.

Karena itu, untuk mengantisipasi minimnya stok pupuk ini, secara berkala pihaknya turun langsung untuk melakukan verifikasi di tingkat petani. Jika ada kekurangan pupuk di kecamatan tertentu, maka direlokasi dari kecamatan lain.

Proses ini terus berlanjut hingga ditingkat kabupaten. Jika di tingkatan ini masih kekurangan juga, maka pihaknya baru mengajukan penambahan kuota ke tingkat Pemerintah Provinsi yang kemudian mengalokasikan pupuk dari Provinsi lainnya. [RN] 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: