Tak Ada Gejala Awal Sebelum Letusan Freatik Gunung Merapi Terjadi

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
21 Mei 2018   12:30

Komentar
Tak Ada Gejala Awal Sebelum Letusan Freatik Gunung Merapi Terjadi

Erupsi Gunung Merapi (Foto : Foto: Dok. BNPB)

Trubus.id -- Gunung Merapi kembali melontarkan letusan freatiknya, Senin (21/5) pada dini hari tadi. Letusan freatik yang telah terjadi dua kali ini sama sekali tak disertai gejala awal seperti terjadinya peningkatan suhu di area puncak seperti  saat letusan freatik, 11 Mei 2018 lalu.

“Letusan freatik kali ini tidak ada gejala awal apapun yang menunjukkan akan terjadinya letusan yang terjadi secara berturut-turut hari ini,” kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi Yogyakarta Hanik Humaida di Yogyakarta, Senin (21/5).

Lebih lanjut ia mengatakan kondisi ini berbeda saat letusan 10 hari lalu yang masih disertai peningkatan suhu sebelum letusan terjadi.

Pada letusan freatik yang terjadi dini hari tadi kamera thermal merekam terjadi kenaikan suhu hingga 200 derajat celcius secara mendadak, begitu pula dengan letusan kedua juga terjadi perubahan suhu secara mendadak meskipun tidak setinggi saat letusan pertama.

"Tiba-tiba suhu langsung meningkat saat letusan. Tidak ada gejala dengan peningkatan suhu secara perlahan-lahan seperti sebelumnya," sambungnya.

Hanik menyebut, tidak adanya gejala awal apapun sebelum terjadi letusan freatik merupakan hal yang cukup wajar, terlebih dua letusan yang terjadi tersebut berskala kecil.

Berdasarkan studi yang dilakukan terhadap 115 kejadian letusan freatik, sebanyak 62 persen disertai dengan gejala awal, 22 persen gejala yang menyertai tidak jelas dan 16 persen sama sekali tidak disertai gejala.

Dari kedua letusan freatik yang terjadi dalam waktu berdekatan tersebut, BPPTKG juga tidak melihat adanya perubahan morfologi di puncak Gunung Merapi.

Menurutnya letusan freatik di Gunung Merapi hingga saat ini tidak disertai atau diikuti dengan perubahan gejala seismik apapun sehingga dapat dipastikan bahwa letusan yang terjadi murni disebabkan akumulasi uap air dan gas hingga menyebabkan hembusan.

"Berdasarkan pantauan kami, seluruh gejala seismik masih normal. Untuk itu kami akan terus melakukan pemantauan selama 24 jam ke depan. Jika ada perubahan gejala seismik, maka akan kami informasikan segera ke masyarakat. Letusan vulkanis biasanya disertai dengan gejala seismik maupun deformasi," tutup Hanik. [KW]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: