Diplomasi melawan Hoax Sawit Terus Digalang Pemerintah Indonesia

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
17 Mei 2018   21:15

Komentar
Diplomasi melawan Hoax Sawit Terus Digalang Pemerintah Indonesia

Menko Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan. (Foto : Istimewa)

Trubus.id --Komoditas kelapa sawit Indonesia masih menjadi sasaran hoax dunia, khususnya Eropa. Karena itu, jika hoax ini tidak diklarifikasi, 2,3 juta petani dan 17,5 juta pekerja di sektor pertanian sawit akan terkena dampaknya. 

"Ternyata terhadap data yang dipakai Uni Eropa banyak terjadi distortion of fact, nah itu yang banyak dilakukan negara-negara di Eropa ini. Sekarang ini kita kembali menyajikan data bahwa 'rule' nomer satu dari WTO itu keadilan. Jadi tidak boleh ada diskriminasi." terang Menteri Koordinator (Menko) bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan dalam  kunjungannya ke Italia pada 14-16 Mei, seperti dalam keterangan tertulisnya, Kamis (17/5).

Baca Lainnya : Luhut: Sawit Hidupi 17,5 Juta Warga Indonesia

'Dicastery for Promoting Integral Human Development' di bawah pimpinan Kardinal Peter Turkson pun menyoroti peran industri sawit terhadap pengentasan kemiskinan.

Dalam seminar yang diselenggarakan organisasinya bersama Indonesia dan Malaysia di Pontifical Urbana University Roma, 15 Mei silam, Kardinal Turkson juga menekankan bahwa peran organisasinya adalah tidak untuk berkelahi dengan pihak manapun. Mereka hanya ingin meletakkan keseimbangan antara kegiatan ekonomi sosial manusia dengan kepentingan kelestarian lingkungan.

"Sisi lain (dari industri ini) harus diceritakan," jelas Luhut lagi.

Dukungan lain juga didapat Indonesia dari dua badan PBB, yaitu  Food and Agriculture Organization (FAO) dan International Fund for Agricultural Development  (IFAD). Kedua organisasi dunia ini menyerukan dukungannya terkait masalah kemanusiaan, kemiskinan, kelaparan, agrikultur, dan peningkatan taraf hidup.

Baca Lainnya : Komoditas Sawit Indonesia Berpeluang Kalahkan Resolusi Parlemen Eropa

"Dukungan IFAD dan FAO banyak. Nanti seperti IFAD itu akan konferensi 'back to back' di Bali, sementara itu mereka juga akan melakukan lobi, begitu juga FAO,” kata Luhut.

Lebih jauh, Menko Luhut juga menjelaskan bahwa dukungan itu diberikan semua pihak karena mereka sepakat dengan prinsip 'Sustainable Development Goals' yang target utamanya adalah pengentasan kemiskinan. 

"Masalah kelapa sawit ini masalah yang harus diselesaikan secara terintegrasi, karena itu menyangkut masalah kemiskinan itu adalah kaitannya dengan SDGs itu nomer satu kemiskinan," paparnya.

Sebagai hasil akhirnya, Luhut berharap publik mendapatkan perbandingan tiga produk utama pertanian yang menghasilkan minyak tersebut. 

"Jadi Kalau memang harus disaingkan ya tidak apa-apa, palm oil disaingkan sunflower atau dengan soybean," ungkap Luhut yang menginginkan adanya keadilan dalam penilaian.

Luhut menerangkan, biji bunga matahari dan kedelai kurang efektif bila dibandingkan palm oil. Dan kelapa sawit dapat menghasilkan minyak sampai 10 kali lebih banyak daripada 2 komoditi tersebut. 

Baca Lainnya : Kolombia Bergabung Dengan Indonesia untuk Cegah Boikot Sawit Uni Eropa

Masalahnya, perbandingan yang adil tidak pernah muncul karena kampanye negatif yang memberikan stereotipe bahwa minyak sawit berdampak pada kerusakan hutan, membahayakan kesehatan manusia, dan mengganggu habitat hewan yang dilindungi.

Justru fakta kontribusi industri sawit yang dapat menciptakan lapangan kerja dan mengentaskan kemiskinan di negara-negara berkembang, terabaikan. Jika kampanye yang tidak berkeadilan ini tidak diatasi, maka kendala terdekat bagi Indonesia akan terjadi pada 2021, di mana Parlemen Uni Eropa melarang impor sawit untuk penggunaan biofuels dan bioliquids termasuk biodiesel. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: