8 Truk Barang Bukti Hasil Kejahatan Satwa Liar dan Tumbuhan Langka, Dimusnahkan KLHK

TrubusNews
Binsar Marulitua
30 April 2018   15:15 WIB

Komentar
8 Truk Barang Bukti Hasil Kejahatan Satwa Liar dan Tumbuhan Langka, Dimusnahkan KLHK

Barang bukti hewan dan tumbuhan dilindungi yang akan dimusnahkan KLHK, Senin (30/4) sore. (Foto : Trubus.id/ Binsar Marulitua)

Trubus.id -- Tak kurang dari 8 truk barang sitaan dan serahan satwa liar dan tumbuhan yang dilindungi, dimusnahkan jajaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Senin (30/4). Seluruh barang sitaan dan serahan itu merupakan barang bukti yang dikumpulkan dari BBKSDA Jawa Barat, BKSDA Jakarta dan Ditjen Gakkum LHK.

Barang sitaan dan serahan berupa hewan dan tumbuhan yang dilindungi sebelum dimusnahkan, Senin (30/4). (Foto: Trubus.id/ Binsar Marulitua)

Sebelum pemusnahan dilakukan, Menteri Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya dalam sambutannya menegaskan, KLHK beserta pihak yang peduli terhadap pelestarian tumbuhan dan satwa liar tetap berkomitmen untuk pemberantasan kejahatan satwa liar yang dapat mengancam kelestariannya.

Hasilnya, selama tiga tahun terakhir, tercatat 187 kasus terkait tumbuhan dan satwa liar berhasil ditangani. Barang bukti yang berhasil disita pun mencapai 12.966 satwa dan 10.233 bagian satwa.

"Penangan barang hasil kejahatan dan tumbuhan dan satwa liar yang hidup dilakukan dengan habituasi sampai dengan pelepasliaran, seperti kukang di Sumatera Barat, kura -kura moncong babi dan kakatua di Papua serta berbagai tempat di Indonesia," jelas Sit Nurbaya di Gedung manggala Wanabakti, Jakarta, Senin (30/4).

Sementara itu, Dirjen Penegakan Hukum (Gakkum) KLHK, Rasio Ridho Sani menambahkan, klasifikasi barang yang dimusnahkan adalah opsetan satwa sebanyak 117 ekor, kerapas Kura- Kura 213 karung, sisik trenggiling 248 Kg, kulit reptil 6.168 lembar.

Sementara itu, bagian tubuh satwa liar yang disita terdiri atas 366 buah kepala tanduk, kuku, bentuk topi, 14 lembar kulit harimau, macan tutul, beruang, 66 lbs potongan tanduk rusa, 16 dus lain-lainnya.

"Kami akan musnahkan di pelabuhan Sukabumi sekarang juga (sore hari), atas beberapa pertimbangan tidak bisa bisa dimusnahkan di kantor KLHK ini," jelasnya.

Opset harimau yang akan dimusnahkan KLHK. (Foto: Trubus.id/ Binsar Marulitua)

Selanjutnya, sebagai upaya penguatan pemberantasan kejahatan tumbuhan dan satwa yang dilindungi, KLHK saat ini tengah memperkuat sistem surveillance dan intelijen berbasis Teknologi Informasi, termasuk pemantauan perdagangan satwa ilegal secara online melalui cyber patrol.

Tak hanya itu, petugas juga tengah membangun sistem pemantauan kerawanan keamanan hutan (Spartan) terpadu dan terintegrasi dengan Center of Intelegience Penegakan Hukum.

Dan agar meninggalkan efek jera bagi para pemburu dan pedagang ilegalnya, dilakukan penegakan hukum multidoor. Kejahatan tanaman dan satwa dilindungi ini sendiri merupakan salah satu prioritas yang diterapkan KLHK.

Dan guna memperkuat hal itu, jaringan penegakan hukum dengan pihak kepolisian, kejaksaaan dan Interpol lebih ditingkatkan. Selain itu ada juga peningkatan kapasitas Penyidikan dan pengamanan.

"Tidak bisa dinilai dari nilai ekonomis saja, tetapi nilai konservasi dan lingkungan hidup. Di Indonesia sendiri kejahatan satwa liar masuk ke dalam peringkat ketiga setelah kejahatan narkoba dan perdagangan manusia dengan nilai transaksi hasil penelusuran PPATK lebih dari 13 triliun per tahun dan nilainya terus meningkat," tambahnya. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: