Terkait Penghapusan Biodiesel Berbahan Sawit, Indonesia Pantang Mengemis ke Uni Eropa

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
24 April 2018   19:15

Komentar
Terkait Penghapusan Biodiesel Berbahan Sawit, Indonesia Pantang Mengemis ke Uni Eropa

Menko Bidang Kemaritiman, Luhur Binsar Pandjaitan berunding dengan Uni Eropa membahas sawit Indonesia. (Foto : Foto: Doc/ Kemenko Bidang Kemaritiman)

Trubus.id -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsat Panjaitan dipercaya menjadi ketua tim negosiasi RI saat melakukan perundingan dengan Uni Eropa terkait resolusi penghapusan biodiesel berbahan kelapa sawit 2021.

Dalam kesempatan itu, Luhut memastikan, Indonesia tidak dalam posisi mengemis dengan kawasan benua biru tersebut.

Baca Lainnya: Sambangi Eropa, Luhut Bahas Diskriminasi Kelapa Sawit Nasional

"Dalam prosesnya kami ingin membangun dialog antara mitra. Kami harap keputusan yang diambil, nantinya bisa memuaskan semua pihak. Kami tidak datang untuk mengemis, untuk didikte, tetapi untuk berdialog dengan mitra. Kami dalam posisi yang setara, kami ingin membangun partnership. Kami bukan negara miskin. Kami negara kaya dengan banyak pengalaman," kata Luhut dalam keterangannya, Selasa (24/4).

Sebelumnya, Luhut melakukan pertemuan dengan Komisioner Perdagangan Uni Eropa, H.E. Cecilia Malmström di kantornya. Dalam kesempatan itu, Luhut mengatakan banyak hal yang dibicarakan tentang isu lingkungan hidup, perdagangan, dan juga kelapa sawit.

“Palm oil bukan isu, tapi lebih ke persoalan kemiskinan. Menurut riset Universitas Stamford, kelapa sawit mampu mengurangi kemiskinan hingga 10 juta orang. 51% lahan kelapa sawit dikuasai oleh petani. Sebanyak lebih dari 16 juta orang bergantung kehidupannya pada sawit," jelas Luhut.

Baca Lainnya: Sawit Indonesia Diboikot Eropa? Ini Tanggapan Direktur BPDPKS

Ia memaparkan, hampir semua minyak sawit yang dikirim dari Indonesia telah mendapat sertifikasi Internasional. Sementara dari segi kesehatan, CPO Indonesia juga sudah melakukan penelitian dan meminta penilaian konsultan independen terkait dampaknya pada kesehatan. Hasilnya, dipastikan tidak ada yang salah dengan sawit.

Di sisi lain Luhut menyampaikan komitmen Indonesia untuk mempercepat proses Indonesia European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang perundingannya masih berlangsung, karena produk Indonesia yang diekspor ke EU bukan hanya sawit.

"Kelapa sawit membantu meningkatkan kehidupan para petani di negara-negara berkembang lainnya, bukan hanya di Indonesia," katanya.

Adapun sawit diklaim telah ada di Indonesia sejak 150 tahun lalu. Hingga kini jumlah lahan kelapa sawit sudah mencapai 14 juta hentare. Dia memastikan tidak ada penambahan lahan untuk lahan sawit. Pihaknya akan lebih konsen pada pendidikan kepada petani terkait peremajaan tanaman dan memberikan mereka penyuluhan tentang bibit unggul, dan pertanian berwawasan lingkungan.

Baca Lainnya: Uni Eropa Segera "Phasing Out" Sawit, Indonesia Pasang Badan

Luhut juga menekankan, saat ini Indonesia tidak dalam upaya untuk melakukan tindakan balasan termasuk untuk menghentikan pembelian Airbus produk pesawat dari Eropa.

"Tidak ada rencana kami untuk melakukan tindakan balasan. Memang kami membutuhkan 2.500 pesawat untuk 20 tahun ke depan. Bagi kami Airbus penting, kami belum berencana mengalihkannya ke Boeing, tetapi kami yakin ada pengertian dari EU untuk menyelesaikan masalah ini. Kami sedang mempertimbangkan juga untuk memiliki Airbus M400 untuk versi military. Mereka datang kepada saya menawarkan ini," jelas Luhut. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan: