Fenomena Pedagang Dadakan, Berkah Ramadan yang Butuh Pengawasan

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
23 Mei 2018   19:15

Komentar
Fenomena Pedagang Dadakan, Berkah Ramadan yang Butuh Pengawasan

Pedagang dadakan menjual makanan pembuka puasa di Pasar Benhil, Jakarta Pusat. (Foto : Istimewa/ Rizky Sulistyo)

Trubus.id -- Bulan Ramadan merupakan bulan penuh berkah. Keberkahan itu pula yang menjadikan para pedagang dadakan bermunculan untuk mengais rezeki. Munculnya para pedagang dadakan di sejumlah tempat seakan menegaskan keistimewaan bulan suci ini.

Karena itu, tak heran kalau hampir di setiap tempat, begitu ramai akan pedagang dadakan yang menawarkan beragam macam kebutuhan. Mulai dari panganan berbuka, hingga pakaian muslim untuk merayakan hari raya. 

Rata-rata pedagang dadakan yang mengais rezeki di bulan Ramadan, adalah warga sekitar yang ingin menambah penghasilan. Namun demikian, banyak pula pedagang dadakan dari berbagai daerah yang datang dari daerah lain, khusus untuk berjualan di bulan penuh berkah ini.

Berkah Pedagang Dadakan

Salah satu pedagang dadakan dari daerah yang ingin merasakan berkah Ramadan di daerah lainnya adalah Bambang. Setiap Ramadan tiba, warga Kota Cirebon ini datang ke Jakarta untuk menjajakan timun suri musiman hasil ladangnya.

Pedagang dadakan penjual takjil di pasar Benhil, Jakarta Pusat. (Foto: Istimewa/ Rizky Sulistyo)

"Sebenarnya saya aslinya bukan pedagang. Saya berdagang biasanya setiap bulan Ramadan saja, saya jualan buah timun suri karena saat Ramadan banyak orang yang cari," jelas Bambang.

Lebih lanjut dikatakan Bambang bulan suci Ramadan menjadi berkah tersendiri baginya. Omzet yang didapatkan pun cukup untuk menghidupi diri dan keluarganya.

"Setiap bulan Ramadan timun suri menjadi primadona. Bisa dibilang timun suri buah khas saat Ramadan" tambahnya.

Harus diakui, pendapatan pedagang dadakan di bulan Ramadan bisa meningkat pesat. Dengan modal minim ditambah sedikit kreasi, pendapatan besar bisa diraih. Hal ini bisa terjadi karena di bulan Ramadan, banyak orang dengan mudahnya mengeluarkan uang. Lapar mata istilahnya. Kesempatan ini lah yang bisa digunakan para pedagang untuk memasarkan produk jualannya. 

Mengelola Pedagang Dadakan

Munculnya pedagang dadakan setiap bulan Ramadan, sudah menjadi tradisi yang sudah cukup lama dilakoni masyarakat Indonesia. Namun memang harus diakui, jumlah pedagang dadakan di bulan Ramadan, tiap tahunnya terus bertambah.

Pedagang takjil dadakan di pasar Benhil, Jakarta Pusat. (Foto: Istimewa/ Rizky Sulistyo)

Hampir di setiap ruas jalan, pedagang dadakan Ramadan bisa dijumpai. Keberadaan mereka, kadang cukup membantu masyarakat lain. Namun terkadang, pedagang dadakan yang tidak tahu aturan justru mengganggu ketertiban. Jalanan macet, trotoar menyempit, hingga sampah sisa dagangan kerap dijumpai.

Untuk itu, di beberapa wilayah, pemerintah daerah sengaja menyiapkan lokasi khusus untuk para pedagang dadakan ini. Langkah ini diambil untuk mengorganisir para pedagang agar tidak mengganggu ketertiban. Bahkan, jika dikoordinasikan dengan baik, lokasi-lokasi penampungan pedagang dadakan ini bisa juga dijadikan lokasi wisata yang bisa menambah pendapatan daerah. 

Salah satu daerah yang melihat peluang menguntungkan dari lokasi berjualan pedagang dadakan Ramadan ini adalah Palembang. Di kota ini, pemerintah setempat menyediakan lokasi berjualan untuk pedagang dadakan sekaligus lokasi wisata yang di beri nama Lorong Basah Night Culinary. Di lokasi ini, pedagang dadakan berkumpul menjajakan berbagai macam makanan untuk santap sahur.

Lorong Basah Night Culinary, tempat pedagang dadakan yang dijadikan daerah wisata Ramadan di Palembang. (Foto: Istimewa) 

Lorong Basah Night Culinary merupakan salah satu pesona wisata Ramadan 2018 hasil inovasi Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Palembang, Sumatera Selatan. Kepala Dispar Kota Palembang bahkan menyebut, sampai saat ini hanya di Palembang inilah ada lokasi wisata kuliner khusus sahur. 

Lorong Basah Night Culinary hadir sekaligus menghidupkan wisata kuliner malam di kota pempek itu. Selama bulan Ramadan, wisata malam tersebut dibuka mulai pukul 20.00 WIB. Waktunya selepas shalat tarawih, hingga pukul 03.00 WIB. Atau bertepatan dengan datangnya makan sahur.

Di lokasi ini ada sebanyak 170 tenant makanan baik ringan, berat, tradisional hingga makanan luar negeri. Makanan yang mereka jual juga tidak boleh sama. Namun yang utama, semua makanan yang dijual pedagang dadakan disana harus sehat semua.

“Dan yang pasti, sehat karena kita bekerja sama dengan Badan Pengawasan Obat dan Makanan Kota Palembang untuk pengawasannya,” kata Isnaini beberapa waktu lalu.

Pengawasan Produk Makanan Pedagang Dadakan

Kekhawatiran akan adanya makanan mengandung zat berbahaya yang dijual pedagang dadakan tentu sangat meresahkan. Karena itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Salahudin Uno meminta Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) DKI untuk memperketat pengamanan terhadap makanan berbuka puasa atau takjil yang dijual di pasaran.

Pemkot Jakarta Pusat bersama BBPOM DKI Jakarta melakukan sidak ke pedagang dadakan pasar Benhil, Jakarta Pusat. (Foto: Istimewa/ Rizky Sulistyo)

“Saya sudah minta ke DKPKP supaya meningkatkan pengawasan ke pasar tradisional dan modern, atau ke pedagang takjil musiman selama Ramadan," ujar Sandiaga di Jakarta, Selasa (15/5) lalu.

Menurut Sandi, peningkatkan pengawasan berguna untuk memastikan seluruh makanan yang dijual di pasaran sesuai standar yang telah ditetapkan pemerintah. Makanan itu tidak boleh mengandung bahan-bahan kimia berbahaya yang berdampak pada kesehatan masyarakat.

“Soalnya selama Ramadan biasanya masyarakat lebih suka berburu takjil sebagai makanan berbuka puasa, untuk itu pangawasan harus kita tingkatkan agar takjil yang dikonsumsi masyarakat, aman,” tambahnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Darjamuni mengatakan, pihaknya akan berupaya secara maksimal melakukan pengawasan dan pengecekan langsung ke lapangan.

“Rencananya pengawasan akan kami lakukan setiap hari selama Ramadan di pasar tradisional, pinggir jalan, ataupun modern yang turut berkoordinasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)," tutur Sandi.

Sandi mengatakan sejak awal Mei 2018 lalu, DKPKP mencatat telah ditemukan sebanyak 69 dari total 113 pasar atau sekitar 61 persen pasar tradisional yang dinyatakan aman dari zat-zat kimia yang berbahaya.

Makanan Mengandung Zat Berbahaya, Masih Ditemukan

Di berbagai daerah, pedagang dadakan yang berjualan makanan pembuka atau takjil, sangat banyak jumlahnya. Meski persaingan sangat ketat, mereka tetap berlomba mencari keuntungan di waktu-waktu seperti ini. 

Contoh makanan mengandung zat berbahaya. (Foto: Istimewa/ Rizky Sulistyo)

Ada pedagang dadakan yang menjual takjil hasil buatan sendiri, namun banyak pula pedagang dadakan yang hanya menjajakan dagangan yang ia beli dari tempat lainnya. Karena itulah, cukup sulit melakukan pengawasan terhadap standar kesehatan makanan tersebut.

Untuk mengantisipasi adanya makanan yang tidak layak, pemerintah di berbagai wilayah bersama Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) pun akhirnya terpaksa turun tangan. Pengetatan pengawasan dilakukan untuk mencegah adanya pedagang nakal yang menjual makanan yang mengandung zat berbahaya. Seperti yang dilakukan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung ini contohnya. 

Sejak pedagang dadakan takjil marak, BBPOM Kota Bandung terus mengintensifkan pengawasan. Senin (21/5) petang, hal serupa juga dilaksanakan. Dari berbagai pusat keramaian perdagangan makanan di Kota Kembang, petugas mengambil belasan sampel makanan untuk diuji di laborotorium berjalan milik mereka. Hasilnya, dari 16 jenis makanan yang dicurigai mengandung zat berbahaya, 1 diantaranya mengandung formalin yang berbahaya apabila dikonsumsi manusia.

Contoh makanan mengandung zat berbahaya. (Foto: Istimewa/ Rizky Sulistyo)

Di Jakarta sendiri, hal yang sama juga dilakukan. Selasa (22/5) sore, Pemkot Administrasi Jakarta Pusat melakukan sidak di pusat takjil Ramadhan Pasar Bendungan Hilir (Benhil), Tanah Abang, Jakarta Pusat. Hasil dari sidak terpadu Pemkot bersama BBPOM DKI Jakarta ini memnemukan dua jenis makanan mengandung zat berbahaya seperti Formalin dan Rhodamin B dari pedagang takjil bernama Abdulrahman.

Wali Kota Jakarta Pusat, Mangara Pardede mengatakan, pengawasan pangan terhadap jajanan takjil dilakukan untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi warga. Sementara terkait adanya temuan Formalin dan Rhodamin B di Pasar Takjil Benhil, Pemkot Jakpus berjanji akan melakukan penelusuran sampai ke produsennya. 

Sementara itu, Kepala BPOM DKI Jakarta, Sukriadi Darma menjelaskan, dari 30 sample makanan olahan dan takjil yang diambil dari para pedagang, ditemukan dua sample berupa pacar cina mengandung Rhodamin B (pewarna kain) dan tahu isi mengandung formalin (bhorak). Sementara lainnya aman dikonsumsi dan tidak ditemukan kandungan bahan berbahaya.

Pedagang Dadakan Marak, Pengeluaran Meledak

Fenomena munculnya pedagang dadakan di bulan Ramadan, dipercaya bukan tanpa sebab. Yah, di bulan Ramadan ini, biasanya orang dengan mudah menggelontorkan uangnya. Tanpa pikir panjang, banyak orang mengeluarkan uang yang terkadang untuk keperluan yang tidak mendesak.

Promosi yang digencarkan pedagang saat Ramadan, salah satu penyebab pengeluaran tidak terkontrol. (Foto: Trubus.id/ Hadi)

Jika diamati, berkurangnya waktu makan pada siang hari selama Ramadan, logikanya bisa menekan beban pengeluaran dibanding hari biasa. Namun kenyataannya, sebagian orang malah menjadi boros pada bulan puasa karena banyaknya tawaran buka bersama, tergiur takjil di jalanan, atau melihat pakaian yang dijajakan pedagang dadakan. 

Perencana Keuangan dari Finansia Consulting, Eko Indarto menyebut, Ramadan selayaknya membuat orang lebih banyak menabung karena pengeluaran tentunya lebih sedikit daripada hari biasa. Jadi, tabungan tersebut dapat dipakai untuk persiapan menyambut Lebaran, misalnya untuk membeli baju baru, mengecat rumah, dan memberikan tunjangan hari raya atau THR. 

"Jangan sampai, karena banyak pengeluaran di bulan puasa, kita malah berutang ketika Lebaran," tuturnya.

Menurut Eko, anggapan puasa membuat orang justru lebih boros itu tidak benar. Yang bikin boros itu diri sendiri, bukan puasanya. Semua momen itu bergantung pada kita, pandai mengelola atau tidak.

Tips Kelola Keuangan Selama Ramadan

Untuk itu, Eko memberikan tips berikut guna mengelola keuangan agar tidak overbudget selama bulan Ramadan.

  • Pertama, ubah mindset bahwa berbuka puasa bukanlah ajang “balas dendam” karena telah menahan lapar seharian. Jangan makan dan minum berlebihan. "Kebanyakan orang begitu, padahal seharusnya berfokus pada ibadahnya. Akibatnya, yang terjadi adalah pengeluaran yang bahkan bisa lebih besar daripada hari biasanya," ujar Eko.
  • Kedua, bikin budgeting agar pengeluaran selama Ramadan tidak boleh melebihi pengeluaran pada hari biasa. Hal ini penting jika ada ajakan buka bersama dan promo lain pada Ramadan. "Misalnya, kalau hari biasa itu pengeluaran untuk makan sehari Rp30 ribu, budget bukbernya enggak boleh lebih dari itu," katanya.
  • Ketiga, pandai-pandai memilah ajakan berbuka puasa bersama. "Jangan tiap hari, bisa diatur dua atau tiga kali seminggu, misalnya. Budget juga harus disesuaikan." ujarnya. Di sisi lain, memasak makanan sendiri untuk berbuka dan sahur adalah salah satu langkah besar dalam penghematan selama Ramadan. 

0   0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Mengenal Magot, Si Pengolah Sampah Organik yang Andal

Binsar Marulitua   Liputan Khusus
Bagikan: