Ini Dia Pentingnya Mendorong Petani, untuk 'Melek' Teknologi

TrubusNews
Ihsan Maulana | Followers 0
  :

Komentar

Trubus.id -- Di era digital seperti saat ini, setiap manusia dituntut untuk bisa tanggap dan cekatan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi. Mulai dari internet, smartphone, e-commerce, dan lain sebagainya, harus bisa digunakan sebaik-baiknya oleh semua kalangan.

Namun sayangnya, di balik pesatnya perkembangan teknologi, nyatanya masih banyak masyarakat yang belum mengerti cara penggunaannya. Padahal teknologi tersebut bisa membantu beban kerja dan menambah penghasilan mereka. Seperti para petani di pelosok daerah contohnya.

Jika saja teknologi sudah masuk dalam kehidupan mereka, bukan tidak mungkin 'distrupsi pertanian' atau peralihan dari sistem lama dimana mereka mengandalkan tengkulak dalam menjual hasil bumi ke masyarakat, bisa dipangkas sehingga mereka tidak menjadi ketergantungan. Dampaknya tentu saja, kehidupan petani bisa lebih sejahtera.

Baca Lainnya : Peta Lahan Pertanian RI Kini Bisa Diakses Via Sisultan

"Jadi dengan 'melek' teknologi terutama dari inovasinya ya, dari penyuluhan IT jadi bagaimana petani bisa melihat akses pasar. Misalnya mereka dari Gapoktan bisa langsung punya akses dengan perusahaan penggilingan beras melalui sebuah aplikasi. Ini tentu jadi lebih efisien jalur distribusinya," ujar peneliti INDEF, Ahmad Heri Firdaus, ketika ditemui Trubus.id di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Namun Ahmad tidak menampik, jika inovasi ini bisa mengganggu para 'pemain lama', dalam hal ini tengkulak, yang sudah bertahun-tahun berada di sektor jalur tengah antara petani dan perusahaan. Untuk itu, inilah tantangan selanjutnya yang harus dibenahi.

"Justru ini yang harus di dorong, bagaimana nanti mereka (tengkulak) bisa kembali ke hulunya, yaitu sawah. Jadi didorong dengan bagaimana agar mereka mau menanam padi lagi, bagaimana supaya mereka mau membuka lahan. Ini lah yang penting dilakukan. Tapi syaratnya harus ada insentif dari pemerintah agar mereka mau kembali ke sektor pertanian," tambahnya.

Heri menambahkan, petani 'melek' teknologi mutlak dilakukan. Karena dengan begitu, para petani bisa mengakses informasi akurat, mulai dari harga pasar lokal hingga internasional.

"Untuk petani melek teknologi, ini mutlak harus dilakukan karena di Thailand sudah mulai dilakukan. Jadi dengan itu mereka bisa akses informasi akurat mengenai harga pasar bahkan sampai di tingkat internasional. Karena selama ini harga pasaran terkesan tidak transparan, hanya mulut ke mulut antar petani di desa pedalaman," sambungnya.

Bila ini penerapan petani 'melek' teknologi ini berhasil, tidak hanya petani yang juga akan mendapat dampak positifnya. Kosumen pun bisa merasakan hal positif yang ditimbulkannya. Seperti harga komoditas pertani yang bersaing contohnya. 

Baca Lainnya : Gerakan Pertanian Ramah Lingkungan Mulai Digalakkan di Jateng Tahun Ini

"Jadi saya rasa ini upaya fundamental jangka menengah-panjang ya, dan ini harus dilakukan. Kalau terus-terusan seperti ini kita tidak bisa mengkompensasi defisit neraca perdagangan pertanian," tandasnya.

Ketika ditanya soal keterkaitan fenomena generasi muda yang jarang mau jadi petani saat ini, Heri menjelaskan jika hal itu karena tidak adanya insentif dari sektor pertanian.

"Karena tidak adanya insentif baik itu dari fiskal maupun non fiskal, maka mereka merasa incomenya minim, beda kalau misalnya diberikan ya, itu bisa mendorong mereka kembali ke sektor pertanian. Kan jadi petani tidak cuma nyangkul di sawah, tapi bagaimana upaya pasca panen, dan sebagainya. Jadi intinya bagaimana memperhatikan segi produktifitas produk komoditasnya itu sendiri," tutupnya. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: