Habitatnya Rusak, Populasi Banggai Cardinal Fish Menurun Drastis

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
  :

Komentar

Trubus.id -- Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meninjau lokasi budidaya Ikan Capungan Banggai atau yang dikenal sebagai Banggai Cardinal Fish (BCF), milik Kelompok Pembudidaya Lestari di Desa Bone Baru, Sulawesi Tengah, Selasa (15/5) kemarin.

Pembudidayaan ini dilakukan mengingat populasi ikan hias asli perairan Banggai Laut dan Banggai  Kepulauan tersebut sudah menurun drastis. Hal itu terjadi karena kerusakan habitat dan penangkapan berlebih.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sendiri telah menetapkan status perlindungan terbatas BCF, melalui melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 49 tahun 2018.

Baca Lainnya : KKP Masukkan Ikan Capungan Banggai Sebagai Satwa Dilindungi

Dalam Kepmen tersebut diatur, pada musim puncak pemijahan BCF pada bulan Februari, Maret, Oktober, dan November, tidak boleh dilakukan kegiatan penangkapan BCF. Hal ini dilakukan agar BCF dapat berkembang biak secara alami sehingga populasinya dapat tetap terjaga.

Upaya perlindungan habitat  BCF pun juga terus dilakukan Gubernur Provinsi Sulawesi Tengah. Salah satu caranya, Pemerintah Daerah (Pemda) menetapkan sebagian habitat penting ikan Capungan Banggai menjadi kawasan konservasi melalui Keputusan Gubernur Sulawesi Tengah No. 523  tahun 2017. 

"Kabupaten Banggai Laut dianugerahi lingkungan laut yang sangat indah dan sumber daya ikan yang berlimpah. Keindahan ini harus dijaga bersama. Jangan lagi menangkap ikan dengan menggunakan bom dan racun sianida (potas), karena akan merusak lingkungan laut yang pada akhirnya akan merusak masa depan anak cucu kita," Jelas Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti dalam keterangan tertulisnya, Rabu (16/5). 

Sebagai informasi, nama Banggai Cardinal Fish telah dikenal di dunia internasional. Konvensi Perdagangan Internasional Tumbuhan dan Satwa Liar Terancam Punah (CITES/ Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna) telah 2 kali berusaha memasukkan ikan ini dalam daftar Appendiks II CITES. Namun kedua upaya itu mengalami kegagalan. Tapi besar kemungkinan, negara asing akan kembali mengusulkan ikan ini masuk dalam aturan tersebut. 

"Oleh karena itu kita harus tunjukkan kepada dunia bahwa pemerintah bersama dengan pemerintah daerah dan masyarakat Banggai Laut dan Banggai Kepulauan mampu mengelola Banggai Cardinal Fish secara lestari," pungkas Susi.

Baca Lainnya : Nelayan Banggai Harus Punya Kesadaran Konservasi

Hal senada juga diutarakan Bupati Banggai Laut, Wenny Bukamo. Ia mengatakan, agar BCF tetap lestari, habitat dan pengelolaan BCF harus dilakukan dengan baik.

Ia mencontohkan, BCF yang diambil dari alam (laut) harus dibatasi secara terukur. Selain itu menurutnya penting dilakukan budidaya untuk memberikan daya dukung terhadap ketersediaan BCF di alam.

"Di sini (Banggai Laut) memang habitatnya BCF. Cuma memang yang kita khawatirkan pengambilan dari alam secara berlebihan. Kalau misalnya itu dibudidayakan dan kemudian di ekspor, saya kira tidak terlalu masalah. Dengan kuota yang begitu besar, saya khawatirkan nanti diambil kekurangan budidaya diambil dari alam secara berlebihan. Oleh karena itu kontrol dan pengawasan itu sangat penting," tutup Wenny. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          

Longsor di Chongqing, 5 Orang Tewas

by Binsar Marulitua   Peristiwa
Bagikan:          
Bagikan: