Tak Dilirik Generasi Muda, Bagaimana Nasib Tempat Wisata Bersejarah?

TrubusNews
Ihsan Maulana | Followers 0
  :

Komentar

Trubus.id -- Selain memiliki kekayaan alam yang melimpah, Indonesia juga menyimpan sejarah panjang yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Mulai dari masa kejayaan dinasti di masa lampau sampai perjuangan rakyat merebut kemerdekaan.

Karena itu, tidak ada alasan untuk tidak mengenal negeri sendiri dari sejarahnya. Salah satu cara yang banyak dilakukan untuk mengenal sejarah indonesia adalah dengan berwisata ke tempat-tempat bersejarah tersebut.

Berwisata merupakan salah satu cara terbaik untuk belajar sejarah. Dengan mengunjungi tempat bersejarah, secara tidak langsung kita juga belajar mengenai perjalanan panjang untuk membangun negeri ini. Pasalnya, salah satu cara mempelajari sejarah Indonesia adalah dengan mempelajarinya lewat peninggalan sejarahnya yang ada di berbagai kota di Indonesia.

Wisata Sejarah Kini Jarang ‘Dijamah’

Sebelum bangsa ini merdeka, Indonesia memiliki sejarah panjang yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Situs-situs bersejarah yang kini dijadikan tempat wisata, adalah saksi bisu terbentuknya negeri ini. Karena itu, untuk bisa memahami sejarah bangsa, wisata ke tempat bersejarah bisa menjadi solusi.

Situs cagar budaya pemakaman tokoh Belanda di Kebun raya Bogor. (Foto: Trubus.id/ Ihsan Maulana)

Namun sayangnya, wisata sejarah kini mulai ditinggalkan. Apalagi bagi generasi muda saat ini. Contoh saja tempat wisata bersejarah pemakaman tokoh Belanda di Kebun Raya Bogor ini. Di tempat pemakaman itu, sejarah Kota Bogor tersimpan rapi. Tapi sayangnya, banyak generasi muda yang sudah tidak peduli. Tidak banyak yang mau mengunjungi.

Ketika Trubus.id berkunjung ke lokasi tersebut beberapa waktu lalu, tidak dijumpai wisatawan di lokasi itu. Hal yang sama juga dijumpai ketika Trubus.id mengunjungi museum Perjuangan Bogor. 

Di museum yang berada di tengah riuhnya pusat perbelanjaan dan pasar di daerah Merdeka, Kota Bogor, tak banyak wisatawan yang datang. Di museum yang memiliki dua lantai ini, suasananya tampak sepi. Di lantai dasar tempat koleksi senjata api dan di lantai dua tempat koleksi benda pusaka dan baju-baju para pejuang juga tidak ditemui pengunjung.

"Kalau dari jumlah kunjungan per hari, kadang ada kadang nihil. Jadi banyaknya itu bukan dari kunjungan per orang tapi dari sekolah-sekolah saja. Mereka juga kesini hanya mengerjakan kewajiban tugas saja, jadi bukan dari kesadaran sendiri. Dalam sebulan cuma 30 orang saja," ujar Aldy, pemandu di Museum perjuangan Bogor kepada Trubus.id beberapa waktu lalu.

Salah satu koleksi benda bersejarah di museum perjuangan Bogor. (Foto: Trubus.id/ Ihsan Maulana)

Ia membeberkan, pengunjung terbanyak umumnya berasal dari luar Kota Bogor. Seperti kelompok study tour sekolah dasar hingga mahasiswa. Sementara pelajar Kota Bogor yang berkunjung, mereka hanya datang untuk mengerjakan tugas sekolah semata.

"Kalau kita lebih melihat ke anak SD dan SMP, karena mereka masih ingin belajar dan mengenal sejarah. Tapi untuk SMA ke atas sudah beda, mereka ya hanya ngerjain tugas aja, atau yang anak kuliah juga datang entah mau melengkapi skripsi atau mau buat film saja, sehabis itu tidak kembali lagi. Malah saya akan kasih jempol buat orangtua yang mau ajak anaknya belajar sejarah ke museum, karena memang kunjungan dari kalangan umum sudah jarang disini," papar pemandu berusia 19 tahun itu.

Alasan Wisata Sejarah Ditinggalkan Anak Muda

Harus diakui, dengan maraknya tempat wisata baru, wisata bersejarah mulai ditinggalkan wisatawan, khususnya generasi muda.

Museum Perjuangan Bogor. (Foto: Trubus.id/ Ihsan Maulana)

Seperti dirangkum dari Brilio, banyak faktor yang menyebabkan wisata sejarah tidak dikunjungi lagi. Berikut beberapa diantaranya.

1. Kuno

Kesan kuno masih saja melekat pada sebuah tempat yang menyimpan banyak ilmu dan benda-benda bersejarah ini. Keberadaan museum kadang malah tidak disadari oleh sebagian besar orang. Tak heran jika banyak museum-museum yang masih sepi pengunjung.

2. Kurang terawat

Keadaan museum yang kurang terawat juga membuat daya tarik museum semakin hari semakin menurun saja. Banyak fasilitas yang tidak diperbaiki ataupun ditambah, membuat anak muda merasa kurang tertarik untuk berkunjung ke museum lagi dan lagi.

3. Membosankan

Tampilan museum yang sangat standar, hanya ruang saja dengan memamerkan benda-benda bersejarah juga dinilai sangat membosankan. Tidak ada kreativitas pengemasan yang unik dari pengelola untuk menarik minat pengunjung. Sehingga museum banyak yang dibiarkan begitu adanya dari awal pembangunan.

4. Hanya untuk anak TK dan SD

Kebanyakan yang berkunjung ke museum adalah anak-anak TK maupun SD yang difasilitasi pihak sekolah. Hal ini membuat citra bahwa museum cocoknya untuk anak-anak. Padahal tidak sepenuhnya benar, loh. Banyak juga museum-museum keren di negeri kita. 

Pemuda yang Suka Sejarah, ‘Barang Langka’

Tidak banyak memang anak muda zaman sekarang yang tertarik dengan sejarah bangsanya sendiri. Namun hal itu tidak berlaku untuk Muhammad Rachmat Aldyan. Remaja berusia 19 tahun ini justru mengabdikan dirinya untuk menjaga keberlangsungan tempat bersejarah seperti museum.

Aldy (19), pemandu wisata di museum Perjuangan Bogor. (Foto: Trubus.id/ Ihsan Maulana)

Lulusan SMK di Bogor jurusan multimedia tahun 2017 lalu itu kini mengabdikan dirinya jadi pemandu wisata di Museum Perjuangan Kota Bogor.

"Saya lebih pilih kerja disini karena selain ada nilai historinya, tapi juga saya mau belajar dan berbagi ilmu sejarah di Kota Bogor kepada generasi yang akan datang," ungkapnya kepada Trubus.id ketika ditemui di Museum Perjuangan Bogor beberapa waktu lalu.

Memilih pekerjaan yang 'tidak biasa', membuat Aldy sempat dikucilkan oleh teman sebayanya. Namun, Aldy tak memperdulikannya. Baginya, hal itu justru jadi penyemangat dirinya untuk tetap semangat menyampaikan sejarah ke generasi penerusnya.

"Saya kerja disini juga tidak menerima gaji, saya sukarela. Teman saya banyak yang tanya, kenapa tidak kerja di pabrik saja, tapi yang jadi perhatian saya sampai kapan pun, saya akan tetap menjaga museum ini meski suatu saat sudah bekerja di tempat lain," sambungnya.

Ia juga tidak memungkiri jika keinginannya ini sempat ditentang oleh orangtuanya sendiri. Namun lagi-lagi, keteguhan hati Aldy untuk mendedikasikan masa mudanya untuk museum tua ini tidak akan luntur.

"Memang sempat ada, tapi saya tetap disini, cita-cita saya sebelum masuk TNI di batas usia 20 tahun, saya akan terus di sini. Meski saya nanti jika sudah jadi seorang tentara pun saya akan tetap menjaga museum ini, sampai museum ini benar benar diambil pemerintah kota dan dirawat dengan sebaik-baiknya," tegasnya.

Aldy mengakui, satu hal yang memotivasi dirinya menjadi pemandu wisata di musem adalah agar anak cucunya kelak masih bisa mengetahui sejarah, minimal di kota tempat tinggalnya. 

"Kemudian kalian anak muda harus merasa gak apa-apa tidak gaul di sosmed atau apa lah, tapi lebih memiliki ilmu yang berguna bagi negara. Terakhir, bagi anak muda di Kota Bogor, bolehlah kalian merasa hits, tapi dengan mengetahui sejarah kotanya sendiri, percayalah kalian pasti akan lebih hits," tutupnya.

Etika Wisatawan Muda

Wisata bersejarah mungkin dianggap sudah tidak menarik lagi untuk generasi muda masa kini. Kalaupun ada generasi muda yang masih tertarik dengan sejarah bangsanya, mungkin jumlahnya sudah tidak banyak lagi.

Wisatawan muda yang tidak menjaga etika di tempat bersejarah. (Foto: Istimewa)

Namun yang jadi masalah, ketika ada anak muda yang mengunjungi wisata bersejarah, prilaku mereka justru membahayakan cagar budaya yang mereka kunjungi. Yah, prilaku dan etika wisatawan muda saat ini yang jadi masalahnya. Entah tak tahu, lupa atau memang abai, wisatawan kerap kali melakukan tindakan tidak terpuji di tempat wisata. Terutama perkara foto, demi eksis di dunia maya, tempat wisata, khususnya wisata bersejarah seringkali jadi korbannya.

Memang, berfoto sudah menjadi kegiatan wajib wisatawan. Mengabadikan momen-momen atau hal-hal unik ketika mengunjungi suatu objek wisata sangatlah menarik untuk dilakukan. Namun tetap saja dalam berfoto pun ada etikanya.

Masalah etika seyogyanya memang tetap dipegang teguh dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang sama juga tetap harus dipegang ketika berwisata, khususnya ke tempat bersejarah. Berikut ini etika traveling yang sering dilupakan wisatawan ketika mengunjungi objek wisata. 

1. Tidak buang sampah sembarangan.

Kami cukup yakin bahwa di sekolah dasar pun kita semua diajarkan untuk tidak melakukannya. Ingat lah, sampah yang kamu buang tak mungkin hilang sendiri. Saat di belahan dunia lain sudah banyak orang yang sibuk menghargai dan menjunjung budaya kebersihan, kenapa di sini malah belum bisa mencintai kebersihan dan kerapihan? Mulai sekarang, bawalah kantong untuk mengumpulkan sampah dan jangan membuangnya sampai kamu menemukan tempat sampah. Semua perubahan dimulai dari diri sendiri, bukan? 

2. Tidak melakukan vandalisme

Tak usahlah bicara soal objek wisata, fasilitas umum seperti toilet, pagar, dinding atau bangku taman saja sering jadi korban pengrusakan. Padahal logikanya, jika suatu saat kamu kembali ke sana, kamu pasti ingin semua itu dalam keadaan bersih dan rapi juga, kan? Contoh lain, wisata taman bunga yang bunganya habis dipetik atau diinjak demi sebuah foto yang menarik. Ironis, ya. 

3. Menghormati budaya dan tata krama

Lain daerah, lain pula budayanya. Cari tahu tentang kebiasaan dan hal apa yang termasuk dalam pelanggaran norma. Contoh, ketika berkunjung ke rumah ibadah atau wisata sejarah berbau religi, kenakan pakaian yang sopan, tidak membuat keributan dan tidak sembarangan memotret. Masih ingat kasus wisatawan dan bahkan wartawan yang sembarangan memotret biksu yang sedang beribadah Waisak di Candi Borobudur dengan blitz? Please, do not do the same thing. 

4. Tidak berbuat asusila 

Sebagian tempat wisata, termasuk tempat wisata sejarah, memang jauh dari keramaian, tapi bukan berarti bisa dijadikan kesempatan untuk berduaan dan berbuat asusila. Hal itu tentu tidak bisa ditoleransi lagi bukan? 

Mengapa Wisatawan Muda Abai? 

Contoh-contoh pengrusakan yang kita tahu bisa jadi hanya sedikit dari pelanggaran dan pengrusakan yang tidak tercatat media. Kurangnya edukasi dan kesadaran adalah faktor yang paling mungkin.

Banyak wisatawan muda beranggapan bahwa merawat cagar budaya bukanlah tanggung jawab mereka, melainkan pengelola yang notabene adalah generasi tua. Karena itu mereka datang hanya untuk sekedar bersenang-senang. 

Kalau sudah begini, rasanya perlu ada kurikulum tambahan tentang pariwisata. Pasalnya, edukasi sedari dini mutlak dibutuhkan. 

Meskipun telah ada pencanangan Gerakan Nasional Cinta Museum sejak tahun 2010 lalu, nyatanya generasi muda belum banyak yang senang ke tempat bersejarah seperti museum.

Hal ini terjadi lantaran museum masih dianggap kurang menarik dan kurang mengakomodasi minat anak muda. Paling banter, anak muda datang hanya untuk berselfie ria dan sedikit yang benar-benar ingin belajar sejarah. [TIM]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: