Tak Hanya di Bali, Masyarakat Bengkulu Juga Tolak Pembangunan PLTU Batu Bara

TrubusNews
Binsar Marulitua
08 Mei 2018   21:15 WIB

Komentar
Tak Hanya di Bali, Masyarakat Bengkulu Juga Tolak Pembangunan PLTU Batu Bara

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara di beberapa wilayah Indonesia terus mendapatkan penolakan dari masyarakat.

Proyek hasil kerja sama antara pemerintah Indonesia dan China ini dinilai bisa merusak lingkungan karena kandungan karbon tinggi yang dihasilkan batu bara. Hal yang sama juga melandasi masyarakat Bengkulu menolak proyek ini.

Baca Lainnya: Investasi Tiongkok Dalam Pembangunan PLTU Batu Bara Ditolak Masyarakat, Ini Alasannya

"Pemerintah China seharusnya menyelaraskan kebijakan luar negeri dengan prinsip rendah karbon, bukan mengembangkan energi kotor batu bara," kata Ketua Kanopi Bengkulu, Ali Akbar di Bengkulu, Senin (7/5).

Wacana penolakan proyek PLTU batu bara itu sendiri kembali mencuat saat kunjungan kerja Perdana Menteri China, Li Keqiang ke Indonesia, 6-7 Mei 2018 lalu. Pasalnya, dalam pertemuan bilateral tersebut, ada agenda membahas rencana lanjutan investasi PLTU batu bara di Indonesia itu.

Ali mengatakan, sebelumnya Kanopi Bengkulu bersama lima lembaga non-pemerintah yakni YLBHI, Walhi, Jatam, 350.0rg dan Greenpeace Asia Tenggara mengaku telah bersurat ke Kedutaan China di Jakarta dan ke Presiden Joko Widodo. Surat tersebut berisi keberatan akan pokok pembahasan yang direncanakan pada pertemuan bilateral tersebut.

"Hampir seluruh proyek PLTU batu bara baik di Jawa dan Bali, termasuk di Teluk Sepang, Bengkulu mengalami penolakan warga, karena dampak pencemaran air dan udara," ujarnya lagi.

Proyek PLTU batu bara di Teluk Sepang, Kota Bengkulu dengan kapasitas 2 x 100 Megawatt merupakan investasi pemerintah China yang menghabiskan dana sebesar lebih dari Rp 2,8 triliun. Peletakan batu pertama proyek dilangsungkan pada Oktober 2016 silam. Dan saat ini, proyeknya sudah masuk dalam tahap konstruksi.

Sejak awal rencana pembangunan proyek, warga Kelurahan Teluk Sepang sebenarnya telah menyampaikan penolakannya. Bahkan mereka sempat menggelar aksi pemblokiran jalan saat acara peletakan batu pertama dilakukan mantan gubernur Bengkulu Ridwan Mukti yang saat ini mendekam di penjara karena tersangkut kasus korupsi.

Baca Lainnya: Lawatan Diplomasi PM China Diawali Tanam Pohon Kamper

Sama halnya dengan di Bengkulu, di Bali kata Ali, investasi PLTU batu bara di Celuk Bawang yang didanai pemerintah China juga mendapat penolakan yang sama. Bahkan kini PLTU itu sedang digugat secara hukum oleh masyarakat terdampak, terutama petani dan nelayan.

"Kalau investasi mengancam sumber-sumber penghidupan sebaiknya dihentikan. Segera beralih ke investasi energi ramah lingkungan dan berkelanjutan dan Tiongkok tentu bisa terlibat," kata Ali. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: