Kerja Sama Dengan FAO, Kementan Bina Pasar Unggas yang Sehat

TrubusNews
Syahroni
02 Mei 2018   22:30 WIB

Komentar
Kerja Sama Dengan FAO, Kementan Bina Pasar Unggas yang Sehat

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Guna memutus mata rantai penyakit yang ditularkan hewan, khususnya unggas ke manusia, kegiatan intervensi rantai pasar unggas dilaksanakan pemerintah. Untuk memaksimalkan upaya ini, pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) menjalin kerja sama dengan Organisasi Pangan Dunia (FAO). 

Kerja sama ini dilakukan sejak tahun 2009. Proyek pilot Pasar Binaan dimulai pada tahun 2017 di Pasar Sukatani, Kota Depok. Kegiatan dilakukan dalam bentuk penguatan kapasitas dan bantuan peralatan kebersihan pasar, serta membangun kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perdagangan.

Baca Lainnya: Ini Saran Kementan Agar Peternak Unggas Kendalikan Flu Burung H9N2

Kini Kementan melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) kembali menjalin kerja sama dengan Food and Agriculture Organization (FAO) untuk melakukan pemilihan pasar binaan sebagai model pasar unggas yang sehat.

Direktorat Kesehatan Hewan Ditjen PKH, Arief Wicaksono mengatakan pada tahun ini Kementan menargetkan dapat menciptakan 3 pasar sehat dan 2 RPHU.

“Untuk tahun 2018, kegiatan ditargetkan dapat terlaksana minimal di 3 pasar dan 2 RPHU (Rumah Potong Hewan Umum) di wilayah Jabodetabek,” katanya Rabu (2/5).

Dia berharap dengan keberadaan pasar yang sehat dapat mengendalikan penyakit Flu Burung di sepanjang rantai pasar unggas di wilayah Jabodetabek pada khususnya dan Indonesia umumnya.

Ia menambahkan, ada beberapa kriteria untuk menentukan pasar dan RPHU yang akan dijadikan proyek percontohan pasar binaan Kementan bersama dengan FAO ECTAD. Kriteria tersebut adalah merupakan pasar rakyat dan diutamakan bagian dari program pasar sehat.

Pasar SNI serta memenuhi syarat-syarat biosekuriti di pasar seperti tidak ada penjualan dan pemotongan unggas hidup di dalam pasar. Dan yang terakhir, pasar hanya menjual karkas unggas yang di peroleh dari RPHU di luar area pasar.

Menurutnya, dalam catatan Kementan bahwa angka lalu-lintas unggas hidup yang masuk ke wilayah Jakarta mencapai 1 juta unggas setiap harinya. Arief mengatakan angka penyakit Flu Burung, tertinggi berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya, yang diduga sebagai dampak dari tingginya tingkat perdagangan unggas melalui pasar unggas hidup yang memasuki DKI Jakarta.

Baca Lainnya: Terindikasi Flu Burung, Ratusan Ayam di Rejang Lebong Mati Mendadak

Oleh sebab itu Kegiataan pasar binaan ini dilakukan untuk mendukung program restukturisasi rantai pasar unggas melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, peningkatan kualitas kegiatan hygiene dan sanitasi di pasar unggas hidup.

Selain itu juga sosialisasi pasar unggas yang sehat bagi konsumen dan pedagang unggas, serta peningkatan pembersihan dan desinfeksi untuk kendaraan pengangkut unggas dalam mencegah penularan virus Avian Influenza ke peternakan.

“Kegiatan ini tidak bisa sendiri, diperlukan dukungan dari pihak-pihak terkait terutama yang memiliki program sejalan seperti di Kementerian Kesehatan dalam program pasar sehat dan kementerian perdagangan dalam program pasar SNI,” katanya. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: