Menilik Persiapan, Pengamanan Kebutuhan Pokok Jelang Ramadan

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
02 Mei 2018   17:00

Komentar

Stok beras di Pasar Induk Cipinang. (Foto : Trubus/ Ridwan Syamsyu)

Trubus.id – Tinggal beberapa hari lagi, bulan suci Ramadan akan segera tiba. Dan seperti sudah menjadi tradisi, jelang bulan suci ini, harga beberapa kebutuhan pokok mulai merangkak naik.

Persoalan kenaikan harga jelang Ramadan hingga Idul Fitri memang selalu muncul dari tahun ke tahun. Bukan tanpa alasan hal tersebut selalu menjadi tradisi. Tingginya permintaan bahan pangan pokok dinilai sebagian orang tidak diantisipasi dengan baik oleh pemerintah.

Selain itu, persoalan tata niaga rantai pasok kebutuhan pokok juga masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Banyaknya tangan perantara dalam rantai tersebut membuat harga-harga bahan pokok melambung tinggi. Para pedagang besar juga ditenggarai memanfaatkan momen menjelang Ramadan untuk mendongkrak harga.

7 Kebutuhan Pokok Berpotensi Alami Lonjakan Harga

Berbagai persiapan dilakukan pemerintah untuk mencegah kenaikan dan kelangkaan harga kebutuhan pokok jelang Ramadan hingga Idul Fitri yang biasa terjadi.

Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kemendag, Bachrul Chairi mengatakan, setidaknya ada tujuh bahan pokok yang berpotensi alami kelonjakan harga.

Pedagang kebutuhan pokok di pasar tradisional. (Foto: Istimewa)

Bahan pokok itu diantaranya adalah beras, gula, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, telur ayam ras, dan bawang putih atau merah.

Ia menambahkan, dari ke 7 bahan pokok yang rawan mengalami kenaikan, bahan pokok seperti beras, gula pasir, daging sapi, minyak goreng, serta bawang merah yang membutuhkan perhatian ekstra.

Pasalnya, berdasarkan data Kemendag Maret 2018, harga beras mengalami penurunan, tapi penurunan tersebut masih di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) dan memberikan andil deflasi 0,1 persen. Sedangkan gula pasir mulai turun, tapi masih di atas HET. Komoditas pangan lainnya seperti daging sapi sejak Maret lalu memberikan andil inflasi 0,01 persen.

Peranan Penting Satgas Pangan

Masalah kenaikan harga dan kelangkaan kebutuhan pokok jelang Ramadan hingga Idul Fitri memang butuh perhatian ekstra. Karena itu, Satuan Tugas (satgas) Pangan mulai perketat pengawasannya ke pasar-pasar tradisional. Pengawasan ini akan terus ditingkatkan hingga Idul Fitri 2018 tiba.

Tim Satgas Pangan Mabes Polri memastikan ketersediaan pangan, maupun harga kebutuhan pokok di pasar-pasar. (Foto: Istimewa)

Saat ini, Satgas Pangan telah memulai sejumlah persiapan dan berkoordinasi dengan para skateholder di dalamnya. Hal itu disampaikan Kepala Satgas Pangan, Irjen Pol Setyo Wasisto. Ia mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan sejumlah skateholder terkait untuk membahas sejumlah komoditas strategis menjelang Bulan Suci Ramadan.

“Saya yakin Ramadan sampai Lebaran tahun ini kelonjakan harga tidak terlalu tinggi,” ucapnya di Jakarta, Jumat (20/4) lalu.

Selain itu, Satgas Pangan juga meminta media turut mengawal dan memantau harga selama Ramadan hingga Idul Fitri. Dengan begitu, Satgas Pangan akan lebih mudah melakukan pengawasan. Tim Satgas Pangan juga nantinya akan meninjau secara langsung distribusi pasokan pangan.

Satgas Pangan kini juga tengah siaga menjaga regulasi komoditas pokok dan penting dari oknum yang biasa melakukan permainan harga. Koordinasi di tingkat daerah pun dibangun.

Di kesempatan berbeda Irjen Pol Setyo Wasisto juga mengatakan, ada 11 komoditas bahan pokok yang kini dipantau. Ke 11 komoditas itu adalah beras, gula, minyak, bawang putih, bawah merah, daging ayam, daging sapi, telur, kedelai, dan cabai.

Jaminan Ketersedian dan Kestabilan Harga

Kekhawatiran akan meningkatnya beberapa harga kebutuhan pokok jelang Ramadan dan Lebaran, setiap tahun terjadi. Karena itu, pemerintah dituntut menenangkan kondisi ini dengan cara memberi jaminan akan ketersediaan dan kestabilan harga kebutuhan pokok.

Perum Bulog menggelar operasi pasar guna menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok. (Foto: Istimewa)

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita bahkan berani menjamin kalau harga dan ketersediaan stok bahan pokok masih terkendali. Untuk itu masyarakat pun diimbau tidak perlu khawatir. 

"Untuk bulan Ramadan, Insya Allah semuanya aman. Yang paling sensitif itu beras, maka seluruh pedagang beras di pasar tradisional wajib jual beras kualitas medium," ungkap Enggar, di Jakarta, Jumat (20/4).

Selain itu, beras medium yang dijual padagang, harus sesuai dengan ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. Wajib diketahui, HET untuk wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi dipatok sebesar Rp9.450 per kilogram.

"Jika mereka siap menjual beras dengan HET dari hasil sendiri, ya silahkan. Tapi jika tidak ada, tentu kami akan menyiapkan," lanjut Enggar. 

Sementara itu, untuk komoditas daging sapi, pemerintah menyatakan bahwa harga tertinggi untuk daging sapi beku sebesar Rp 80.000 per kilogram. Daging kerbau impor asal India, juga ditetapkan dengan harga yang sama.

Kebutuhan Daging Disokong Luar Negeri

Kebutuhan daging menjelang Ramadan dan Lebaran selalu meningkat tajam. Karena itu, pemerintah selalu berusaha memenuhi kebutuhan ini dengan mendatangkan daging sapi dari luar negeri.

Daging impor asal Australia. (Foto: Istimewa)

Pada tahun ini, daging sapi asal India, Spanyol dan Australia yang akan memenuhi kebutuhan daging sapi RI. Namun demikian, pasokan lokal juga tetap diandalkan tentunya.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita mengatakan, daging sapi impor Spanyol yang masuk untuk memenuhi kebutuhan jelang Ramadhan dan Lebaran. Jumlahnya disebut mencapai empat sampai lima ton.

Jumlah itu diketahui lebih kecil daripada daging kerbau impor asal India dan daging sapi impor Australia. Meski demikian, angka impor lima ton daging asal Spanyol ini diakuinya cukup untuk memenuhi kebutuhan Puasa dan Lebaran yang sampai 119 ribu ton.

Di sisi lain, kebutuhan daging sapi di bulan Mei - Juni diprediksi mencapai 116 ribu ton, sementara stok daging sapi lokal hanya 76 ribu ton. Maka dari itu pemerintah menilai perlu menempuh langkah impor untuk memenuhi sisa kebutuhan. 

Harga Beras Harus di Bawah HET

Salah satu kebutuhan pokok yang terancam langka dan mengalami kenaikan harga adalah komoditas beras. Karena itu, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) menargetkan, harga beras jenis medium bisa di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) sebelum memasuki Ramadan tahun ini.

Kuli panggul tengah menata karung-karung beras di pasai induk Cipinang, Jakarta. (Foto: Trubus.id/ Ridwan Syamsu)

"Kita sebelum Ramadhan harus di bawah HET," ujar Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kemendag, Bachrul Chairi, di Bandung, Selasa (17/4).

Ia mengatakan, apabila harga beras masih di atas HET maka pemerintah daerah dapat berkoordinasi dengan Bulog setempat untuk mengisi pasar-pasar rakyat dengan stok beras yang tersedia.

Namun demikian, di sisi lain, pihaknya juga akan terus memantau harga beras. Apabila terjadi lonjakan harga, pemerintah siap menggelontorkan stok yang ada. Ia juga menjamin ketersediaan stok beras hingga bulan Ramadan tersedia baik di pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Sosok Buwas di Balik Perum Bulog

Menangani kebutuhan pokok, khususnya beras memang butuh ketegasan. Kalau tidak, kelangkaan dan kestabilan harga bukan tidak mungkin terjadi. Karena itulah, Presiden RI, Joko Widodo mengambil langkah menempatkan orang-orang yang tepat di posisi yang krusial seperti Perum Bulog.

Komjen (Purn) Pol, Budi Waseso, Dirut Perum Bulog. (Foto: Istimewa)

"Kita perlu orang yang tegas, orang yang berani, orang yang jujur," kata Jokowi di Hotel Grand Sahid Jata, Jakarta terkait penunjukan Budi Waseso sebagai Dirut Perum Bulog.

Ia mengatakan, isu beras dan ketahanan pangan merupakan persoalan masyarakat yang harus dibenahi. Dengan ditugaskannya mantan Kepala Badan Narkoba Nasional di Bulog, ia berharap perbaikan perusahaan itu dalam memperbaiki masalah pangan.

Budi Waseso memang memiliki catatan gemilang dalam hal kejujuran dan ketegasan. Karena itu, track recordnya sebagai polisi dan Kepala BNN diharapkan menjadi daya gentar bagi setiap pihak yang selama ini mungkin "bermain" soal kebutuhan pokok.

Terkait jabatan barunya, Buwas mengatakan dirinya bakal berupaya untuk bisa menjaga kesediaan barang dan menstabilkan harga pangan, khususnya beras. Bahkan dia tak segan mengancam siapapun yang berani memainkan harga beras ini.

"Soal itu pasti, karena begini beras ini masalah perut, ini suatu kebutuhan masyarakat secara menyeluruh, dalam agama dosa besar, mudah-mudahan tidak ada," katanya di Jakarta, Jumat (27/4).

Buwas juga menegaskan kalau dirinya tidak akan segan-segan menyingkirkan pihak-pihak yang berani untuk memainkan harga beras.

"Kalau seandainya ada (yang memainkan beras) itu tugas saya, harus ditertibkan. Kalau tidak tertib mana sampai. Kita bersihkan, kalau perlu disingkirkan, disingkirkan," katanya.

Persiapan Pemprov DKI Hadapi Ramadan

Sebagai ibu kota negara dengan jumlah penduduk yang sangat banyak, DKI Jakarta paling rawan mengalami kenaikan dan kelangkaan harga kebutuhan pokok jelang Ramadan hingga Lebaran 2018. Namun demikian, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan menjamin stok kebutuhan bahan pokok di pasaran tetap aman.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, memantau persiapan kebutuhan pokok jelang Ramadan. (Foto: Istimewa) 

Pemprov juga berjanji distribusi pasokan ke pasaran tak akan terganggu. Hal ini karena stok kebutuhan pokok masyarakat di pasaran mencapai lebih dari seribu ton. Kepala Perum Bulog Divisi Regional DKI Jakarta-Banten, Mansur Siri mengatakan, hingga saat ini ketersediaan stok kebutuhan pokok meliputi 100 ribu ton beras, 400 ton minyak goreng, 60 ribu ton gula, dan 3.800 ton daging.

“Itu jumlah keseluruhan stok di DKI Jakarta,” jelas Mansur di Jakarta, Rabu (25/4).

Hal serupa juga diungkapkan oleh Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya, Arief Prasetyo. Ia mengatakan, saat ini stok beras di PIBC di atas 40 ribu ton. Jumlah itu dinilai aman untuk mengamankan ketersediaan beras selama 2 bulan ke depan.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga mengatakan pihaknya tidak bisa mengendalikan harga kebutuhan pokok yang melonjak, tapi bisa memastikan pasokan kebutuhan cukup.

"Supply juga berjalan baik, jadi diharapkan tidak akan ada kenaikan harga, karena demand (permintaan)nya di Jakarta jelas, siklusnya pun jelas," tutur Anies.

Kebutuhan Daging Warga DKI

Kenaikan harga kebutuhan pokok kerap terjadi jelang Ramadan hingga Lebaran. Namun meski demikian, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandia Uno ingin mematahkan mitos tersebut.

Yah, Sandi bahkan berani menjamin, harga kebutuhan pokok, khususnya daging sapi di Jakarta selama Ramadan sampai lebaran akan tetap berada di angka Rp 99.900.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, memeriksa daging asal NTT yang dipasok dari NTT oleh PD Dharma Jaya.  (Foto: Istimewa) 

Jaminan ini sendiri berani ia sampaikan karena selama ini pasokan daging untuk masyarakat Jakarta tidak pernah putus. Daging yang dijual di Jakarta kata Sandi dipasok dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kupang lewat PD Dharma Jaya.

Sementara itu, Direktur Utama PD Dharma Jaya, Marina Ratna Kusumajati menjelaskan, daging sapi asal NTT dipilih karena harganya yang stabil dan murah. 
"Dari tahun 2016 kita mulai sapi NTT awal pertama Rp 32.500 hanya naik Rp 1.000 sampai dengan hari ini, harga beli kita Rp 33.500 jadi tetep stabil," ujar Marina. [TIM]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: